Mengenal Bambu, Mengenal Indonesia - Beritalingkungan.com | Situs Berita Lingkungan | The First Environmental Website in Indonesia

Post Top Ad

JAKARTA, BERITALINGKUNGAN.COM -- Indonesia merupakan negara dengan keragaman produk bambu tertinggi. Dari 1.439 jenis bambu di dunia, 162 jenis terdapat di Indonesia. LIPI mencatat, sebanyak 124 jenis bambu asli Indonesia dan 88 jenis merupakan endemik.

 

Jenis bambu tersebut menghasilkan manfaat dan produk yang beragam. Di bidang seni, terdapat alat musik bambu seperti Angklung (Sunda), Ridik (Bali) dan Calung (Sunda dan Jawa). Selain itu, bambu dimanfaatkan untuk konstruksi, peralatan rumah tangga, konsumsi, dan obat herbal yang telah lama dikenal masyarakat nusantara.

 

Manajer Program Pertanian Yayasan KEHATI Puji Sumedi Hanggarawati mengatakan, pemanfaatan untuk konservasi bambu telah lama dilakukan, seperti terlihat dari banyaknya rumpun bambu di sepanjang sungai, khususnya di Jawa. Kemampuan bambu menyerap air dan mengikat tanah, mencegah terjadinya erosi, sedimentasi, dan longsor. Terkait mitigasi perubahan iklim, bambu dapat menyerap lebih dari 100-400 ton karbon dioksida per hektar/ tahun. 

 

“Kehidupan masyarakat Indonesia tak bisa lepas dari tanaman bambu, bahkan sejak lahir sampai meninggal. Namun, masih sedikit masyarakat termasuk generasi muda yang punya pengetahuan, baik dari jenis, manfaat, keunggulan, dan peran bambu dalam menjaga peradaban dan kehidupan manusia,” ungkap Puji.

 

Oleh karena itu, Puji mengingatkan tentang pentingnya keterlibatan semua pihak untuk mengedukasi, sekaligus melestarikan tanaman bambu Indonesia. Pasalnya, ada beragam manfaat yang bisa digunakan oleh masyarakat.

 

Alat Potong Tali Pusar dan Sunat

Menurut Puji, bagi masyarakat Jawa dan Sunda, bambu digunakan untuk memotong tali pusar. Sebatang bambu disayat kulitnya untuk mendapatkan potongan tipis yang tajam. "Di Jawa, pisau tajam dari kulit bambu disebut Welad," katanya. 

 

Pada masa itu, dukun sunat menggunakan welad. "Bahkan ada catatan bahwa tepung berwarna kuning kecoklatan yang terdapat di dalam rongga bambu juga digunakan untuk mempercepat penyembuhan luka sunat,"ujar Puji.

 

Tepung tersebut ditaburkan di atas luka. Meskipun belum ada catatan tentang senyawa aktif apa yang ada dalam tepung buluh bambu, yang pasti tepung itu berperan dalam penyembuhan luka.

 

Kemudian, ketika si bayi belajar berdiri dan berjalan, orang tua akan membuatkan alat yang membantunya berjalan. Dua batang bambu disatukan membentuk huruf “L” terbalik. Di tanah akan ditancapkan sebatang bambu atau kayu yang lebih kecil, sehingga bisa masuk ke lubang bambu yang pertama. 

 

"Si anak akan memegang batang bambu horizontal dan mulai melangkahkan kaki berputar. Inilah alat untuk bayi belajar berjalan yang praktis dan mudah dibuat," katanya.

 

Konstruksi Bangunan

Bambu dapat digunakan sebagai bahan kontruksi bangunan, baik sebagai komponen utama, maupun pendukung. Sebagai bahan kontruksi utama, bambu digunakan untuk tiang jembatan atau dijadikan rumah. "Bahkan, sebuah rumah dibuat menggunakan bambu, dimana tiang, atap, dinding, sampai perabotan didalamnya menggunakan bambu," ucap Puji.

 

Jenis bambu yang digunakan untuk kontruksi biasanya berjenis diameter besar, tebal, dan panjang, seperti bambu petung, bambu gombong, dan bambu hitam. "Bambu ampel juga digunakan untuk kontruksi, hanya saja secara umum buluhnya tidak sepanjang dari 3 jenis bambu tersebut, dan memiliki kandungan pati yang tinggi, sehingga mudah diserang serangga," terangnya.

 

Di Jawa pada masa lalu, ketika infrastruktur jalan dan jembatan masih terbatas, masyarakat secara mandiri membangun jembatan dari bambu (sasak), jika kayu sulit ditemukan. "Bahkan sekadar untuk membuat titian di atas sungai kecil, bambu merupakan pilihan paling mudah didapat dan dikerjakan,"katanya.

 

Selain itu, banyak rumah adat tradisional di Indonesia, mulai dari Sumatera sampai Papua menggunakan bambu sebagai kontruksi utama maupun bahan pendukung. Contohnya bisa kita lihat di Rumah Rakit (Sumsel), Rumah Adat Baduy (Banten), Rumah Adat Bali, Rumah Adat Honai (Papua), dan lain-lain.

 

Perlengkapan Rumah Tangga

Untuk peralatan rumah tangga, bambu umumnya dibuat anyaman. Batang bambu memungkinkan dibuat pipih dengan ukuran hingga beberapa milimeter, dan masih lentur untuk dianyam. "Karakter inilah yang memungkinkan bambu dibuat sebagai peralatan rumah tangga," ucap Puji.

 

Pendiri Yayasan Bambu Indonesia, Jatnika Naggamiharja mengatakan, terdapat lebih dari 1.500 produk berbasis anyaman di Indonesia. Pada masyarakat agraris di nusantara, khususnya di Jawa dan Bali, bambu merupakan material yang sangat dibutuhkan dalam proses panen dan pasca panen. 

 

Petani memanen hasil kebun menggunakan tenggok (keranjang bambu untuk menampung hasil panen), kemudian menjemur dan menyimpan dengan anyaman bambu yang lebih besar. Untuk mengelola hasil panen seperti membuat kerupuk, lanthing dan rengginang menggunakan alat jemur berbahan bambu, termasuk digunakan untuk menjemur tembakau. 

 

Produk Seni

Alat musik berbahan bambu biasanya merupakan alat musik tiup seperti seruling dengan berbagai kekhasannya. Juga ditemukan di Peru (Peruvian Flute), Jepang (Shakuhachi flute), dan China (Sheng).

 

Bagi masyarakat nusantara, alat musik dari bambu berkembang luas, tidak hanya terbatas pada alat musik tiup. "Di Indonesia timur, misalnya, alat musik tiup dari bambu sudah berkembang sehingga menyerupai terompet dengan berbagai ukuran sehingga bisa dimainkan sebagai orkestra," terangnya.

 

Kompetisi orchestra musik bambu di Gorontalo dan Sulawesi Utara merupakan kegiatan yang sering diselenggarakan. Sementara bagi masyarakat Sunda dikenal angklung dan ridik atau calung yang banyak digunakan oleh masyarakat Jawa.

 

"Bahkan di Banyumas, dalam satu perangkat gamelan tradisional untuk mengiringi tarian Lengger, gongnya terbuat dari bambu besar yang dibunyikan dengan cara ditiup," kata Puji.

 

Alat Transportasi

Untuk transportasi, bambu paling umum dibuat menjadi rakit. Rakit bambu dalam ukuran pendek (3 meter) dengan delapan batang bambu digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan dengan jala tebar. 

 

Bentuknya yang datar dan stabil membuat nelayan leluasa berdiri di atas rakit, sehingga bebas bergerak untuk melemparkan jala. "Rakit membantu nelayan menjangkau perairan di sungai atau danau yang tenang yang diduga banyak ikan," paparnya.

 

Rakit yang panjang, biasanya menggunakan bambu secara utuh dirangkai secara berjajar, sehingga ujungnya mencuat ke atas, biasanya digunakan untuk mengangkut barang, atau untuk penyeberangan. "Rakit jenis ini bahkan bisa mengangkut barang yang besar dan banyak, termasuk sepeda motor," imbuh Puji.

 

Pada masa lalu, ketika sungai merupakan alur transportasi penting, rakit merupakan moda transportasi efektif untuk menelusuri sungai. Tenaga penggeraknya hanya pada kekuatan manusia yang menggunakan galah bambu untuk mendorong rakit bergerak. Galah digunakan untuk mengendalikan arah rakit yang bergerak memanfaatkan arus air.

 

Selain itu, bambu juga digunakan sebagai cadik atau kitir sampan yang diikat pada sebatang kayu yang melintang, sehingga posisinya sejajar dengan perahu. Cadik berguna untuk menjaga keseimbangan agar sampan tidak terombang-ambing.

 

Upacara Adat

Pada upacara pemakaman, jenazah biasanya dibawa dengan keranda yang dibuat dari bambu. Batang-batang bambu digunakan untuk menutup jenazah di liang lahat sebelum ditimbun tanah. 

 

Di masyarakat Hindu Bali, upacara pembakaran jenazah (palebon atau ngaben) membutuhkan banyak bambu untuk mengusung jenazah dalam konstruksi yang tinggi dan besar. Di masyarakat Toraja, seperti di Rantepao, jenazah yang ditempatkan di liang batu di sebuah tebing tinggi membutuhkan banyak bambu untuk mengangkatnya. "Pada kalangan elit, rumah-rumah bambu harus dibuat untuk keperluan upacara pemakaman yang megah," katanya.

 

Sesaji pada masyarakat Hindu atau penganut agama lokal juga banyak menggunakan bambu. Di Bali, batang-batang bambu yang menjulang dan melengkung dengan hiasan janur menjadi unsur penting dalam ritual keagamaan. Sesaji umumnya diletakkan dalam wadah dari anyaman bambu.

 

Senjata Tradisional

Buluh bambu, khususnya bagian luar dengan serat yang padat dan keras dapat diruncingkan dan menjadi tajam. Ujung bambu yang tajam menjadikan bambu menjadi senjata yang efektif dan mudah dibuat. 

 

Di masyarakat tradisional, bambu menjadi senjata berburu untuk melumpuhkan buruan dengan cara ditusuk. Kulitnya yang disayat tipis bisa menjadi pisau yang tajam untuk mengiris. "Di desa-desa, untuk membersihkan belut, misalnya, lebih efektif menggunakan welad (kulit bambu) untuk membuka perut dan membersihkan isinya," katanya.

 

Selain itu, buluh bambu baik digunakan untuk membuat gendewa (panah) yang memperkuat daya lontar terhadap anak panah. Sifat ini hanya terdapat pada bambu, dan tidak dimiliki oleh kayu atau rotan.

 

Makanan dan Obat

Bambu untuk makanan, biasanya diambil dari rebungnya, yaitu rimpang muda yang masih tertutup pelepah dan sebagian ujungnya mencuat ke permukaan. Rimpang ini berdaging terbal dan lunak, sehingga bisa dimasak. 

 

"Di masyarakat, rebung biasanya dijadikan sayur lodeh atau bahan isian untuk lumpia," katanya. Jenis-jenis bambu yang rebungnya enak dimakan, yaitu bambu ampel dan bambu lengka (Gigantochloa nigrociliata).

 

Bambu untuk obat dikenal sejak lama, meskipun belum cukup penelitian untuk membuktikannya secara medis. Bagian bambu yang digunakan, antara lain adalah tepung yang ada di dalam lubang buluh. Bubuk tersebut dipakai untuk mengobati luka, termasuk mempercepat penyembuhan pada sisa sayatan sunat. "Ada catata, bubuk ini juga digunakan untuk mengatasi penyakit asma," ucapnya.

 

Belakangan juga diperkenalkan pemakaian daun bambu yang diseduh untuk menurunkan tekanan darah dan kadar gula dalam darah. Beberapa menyebutkan, jenisnya adalah bambu kuning. Hanya saja, di Indonesia bambu yang buluhnya berwarna kuning cukup banyak. 

 

Selaini tu, rebung bambu, termasuk bambu madu (Gigantochloa atter) juga diyakini membantu untuk menurunkan kadar gula dalam darah. Bambu ampel kuning dimanfaatkan rebungnya oleh penduduk untuk mengatasi penyakit lever (Elizabeth A Widjaja, 2001).

 

Selain itu, bambu Cangkoreh yang tumbuh di hutan-hutan di Jawa Barat (Taman Nasional Gunung Halimun) mempunyai keistimewaan, yaitu jika dipotong, air akan keluar. Air itu bisa diminum dan dipercaya ampuh untuk mengobati penyakit asma, atau untuk tetes mata.

 

Sumber Energi

Pemanfaatan bambu untuk energi, sejauh ini yang umum adalah dijadikan kayu bakar atau dibuat arang. Buluh bambu, bagian pangkal, buluh tengah, dan bagian atas, bahkan bagian rimpang bisa dimanfaatkan untuk dijadikan arang (bamboo charcoal). 

 

"Arang dimanfaatkan sebagai bahan bakar seperti halnya pada arang yang lain, secara langsung atau melalui proses dibuat dalam bentuk briket," papar Puji. Bambu merupakan salah satu sumber yang bisa dikembangkan untuk menghasilkan bahan bakar (biofuel) dan potensial untuk menggantikan bahan bakar fosil.

 

Konservasi SDA

Tanaman bambu juga mempunyai potensi untuk konservasi. Hal itu menjadi penting bukan saja karena jenis bambu di Indonesia merupakan tanaman endemik, sehingga perlu dipertahankan, namun karena peranannya dalam pelestarian alam. 

 

Rimpang bambu yang saling terjalin dalam satu rumpun, ampuh mencegah tanah longsor, dan penyimpan air yang baik. "Contoh yang memanfaatkan fungsi ini adalah kelompok tani padi organik di Kali Jambe, Lumajang," kata Puji.

 

Mereka memanfaatkan bambu untuk konservasi air, sehingga lahan pertanian mendapatkan air yang cukup dan bersih. Konservasi juga dilakukan di bantaran sungai yakni dengan menanam bambu. 

 

Menurut pemerhati lingkungan, kehadiran bambu di sepanjang aliran sungai Ciliwung berfungsi sebagai penjaga kualitas sungai, meskipun tekanan pencemaran sangat tinggi. 

 

Di sekitar rumpun bambu yang ada di tepi sungai, sering dijumpai sumber air yang terus mengalir. "Hal ini menunjukkan bahwa bambu merupakan tanaman yang baik untuk konservasi air," tandasnya. (Jekson Simanjuntak)

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad