Indonesia Dukung Transformasi Sistem Pangan - Beritalingkungan.com | Situs Berita Lingkungan | The First Environmental Website in Indonesia

Post Top Ad

JAKARTA, BERITALINGKUNGAN.COM — Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Anang Noegroho mengatakan, Indonesia terus berkomitmen untuk melaksanakan transformasi pangan menjadi lebih baik lagi

 

Perumusan transformasi sistem pangan dilaksanakan melalui serangkaian dialog sistem pangan, baik di tingkat sub-nasional, tingkat nasional, dan tingkat global (dalam UN Food Systems Summit 2021).

 

Pelaksanaan dialog sistem pangan juga dilakukan oleh unsur-unsur non-pemerintah, melalui independent dialogues. "Indonesia telah menyampaikan dokumen Strategic National Pathway versi 1.0," ujar Anang pada webinar "Catatan Akhir Tahun Pasca-UN Food Systems Summit", Kamis (30/12).

 

Menurut dia, Indonesia berkomitmen kuat terhadap pelaksanaan transformasi sistem pangan, ditandai dengan kerangka regulasi, antara lain UU No. 18/2012 tentang Pangan, Perpres No. 59/2017 tentang TPB/SDGs, dan Perpres No. 18/2020 tentang RPJMN 2020- 2024. 

 

Selain itu, kerangkanya bersifat inklusif-multi pihak dan menitikberatkan perlunya membangun platform hingga ke tingkat lokal. Selanjutnya, transformasi sistem pangan diarahkan menuju sistem pangan yang bergizi (healthy diets-nutritious), inklusif, berkeadilan (equitable), berkelanjutan (sustainable) dan handal (resilience).

 

"Transformasi sistem pangan ini harus dibangun oleh sistem pangan lokal berbasis potensi lokalitas setempat," ujarnya.

 

Beberapa hasil dialog sistem pangan meliputi; integrasi pangan sehat dan bergizi dengan sistem jaring pengaman sosial, promosi konsumsi pangan berkelanjutan dan literasi pangan, inovasi teknologi fortifikasi dan biofortifikasi, promosi asuransi pertanian dan manajemen risiko bencana untuk membangun resiliensi.

 

Juga, riset dan pengembangan dan transformasi digital untuk inovasi produksi pangan dari berbagai sumber (darat, hutan, dan lautan), dukungan kebijakan untuk transisi menuju agroekologi dan pertanian berkelanjutan, pengurangan susut dan limbah pangan dan promosi keamanan pangan. Promosi bisnis inklusif dan ekonomi sirkuler dalam rantai pasok pangan Insentif dan promosi pangan lokal dan diversifikasi pangan.

 

"Dengan tingginya dan beragamnya sumberdaya, Indonesia memiliki daya dukung yang kuat dalam pembangunan regionalisasi sistem pangan," ucapnya.

 

Hanya saja, kemiskinan, kesenjangan dan keterbelakangan masih didominasi oleh sektor pertanian dan perdesaan. Oleh karena itu, Anang menekankan, sangat penting untuk menempatkan sektor tersebut dalam pemanfaatan lahan berkelanjutan, sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat masyarakat berpendapatan rendah, utamanya petani/nelayan.

 

Tantangan

Peneliti Senior Kebijakan Pangan dan Pertanian FKPR Kementerian Pertanian, Achmad Suryana mengatakan, beberapa saran untuk melengkapi konsep platform transformasi sistem pangan negara kepulauan, yakni mempertimbangkan pertumbuhan dan perubahan struktur penduduk, peningkatan proporsi "affuent" rumah tangga, perubahan pola konsumsi ke arah pangan bergizi, sehat, makanan jadi.

 

"Masih ada kelompok rumah tangga miskin. Muncul triple burden of malnutrition (stunting wasting, obesity)," ucapnya.

 

Permasalahan dan tantangan, kata dia, yakni ketersediaan teknologi pertanian inovatif dan berwawasan lingkungan, melalui open source of innovation, kemajuan digital technology, peluang tambahan supply dari penanganan FLW. Juga, degradasi dan pembatasan pemanfaatan SDA, dominasi pertanian skala kecil, dan frekuensi kejadian perubahan iklim dan externalshocks seperti Covid-19 dan gunung meletus.

 

Di kesempatan yang sama, Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung (Unila),  Prof  Bustanul Arifin menjelaskan posisi Indonesia pada transformasi sistem pangan global. Menurutnya, perlu penguatan sektor pertanian untuk transformasi sistem pangan dengan sistem agro-pangan yang inklusif, resilien dan berkelanjutan. Juga, transformasi sistem pangan dilandasi prinsip kolaboratif, transformatif, resilien dan berkelanjutan.

 

Selain itu, alokasi dukungan dan sumberdaya untuk petani kecil. "Hal itu karena sebagai pengawal sistem pangan lokal dan tradisional, petani kecil berperan penting dalam perjalanan sistem pangan," terangnya.

 

Tak hanya itu, perlu pula diciptakan rantai nilai dan perdagangan pangan yang mampu mendorong peningkatan pendapatan amat penting untuk meningkatkan kesejehteraan dan ketehanan pangan rumah tangga para petani kecil.

 

Strategi lainnya, berupa kemitraan multistakeholders yang lebih inklusif dan lebih kuat. Implementasinya, dialog para pengampu kepentingan dan dialog sistem pangan nasional dan daerah.

 

"Bahkan kerja sama internasional dan kemitraan pada segenap tingkatan untuk memperkuat sistem sistem produksi agro-pangan dan industri, dan Presidensi G20 Indonesia akan mendorong transformasi sistem pangan lebih baik," tandasnya. (Jekson Simanjuntak)

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad